TEMANGGUNG|JKI – Empat mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN)—Vanessa, Imelda, Mayang, dan Daniel—melaksanakan kegiatan pengenalan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) bertajuk CAPLOK (Bocah Paham Lokal) di Dusun Ngadiprono, Temanggung, Sabtu (29/11/2025). Program ini merupakan bagian dari Social Impact Initiative (SII) yang berkolaborasi dengan Spedagi Movement dan Pasar Papringan, sekaligus menjadi aktivitas magang mereka dengan fokus pada community engagement.
Kegiatan CAPLOK diikuti 18 anak jenjang TK–SD. Melalui program ini, para mahasiswa berupaya memperkenalkan potensi lokal kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya regenerasi petani melalui metode belajar interaktif, kreatif, dan berbasis komunitas.
Vanessa menjelaskan bahwa CAPLOK dirancang untuk menempatkan anak sebagai agent of change sekaligus target of change dalam pelestarian pengetahuan mengenai TOGA. “Di Dusun Ngadiprono muncul kekhawatiran hilangnya regenerasi petani. Pak Harun diketahui sebagai generasi terakhir petani di dusun ini. Karena itu, pengenalan tanaman lokal sejak dini sangat penting agar anak-anak memahami nilai, manfaat, dan potensi TOGA di masa depan,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, anak-anak dibimbing oleh Harun dan Hendro—petani muda setempat. Mereka diajak berkeliling mengenali berbagai jenis TOGA di taman rumah warga dan sepanjang jalur Pasar Papringan. Tanaman seperti jahe, kunyit, sereh, daun talas, hingga suweg diperkenalkan melalui pendekatan kreatif, termasuk penggunaan “kekuatan super” untuk memudahkan anak memahami manfaat tiap tanaman.
Usai eksplorasi, anak-anak mengikuti sesi edukasi melalui flashcard khusus. Bagian depan memuat foto tanaman, sementara bagian belakang menampilkan ilustrasi rimpang atau buah beserta kegunaannya. Mereka juga diajak menyelesaikan studi kasus sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, agar lebih memahami kapan dan bagaimana TOGA dapat dimanfaatkan.
Kegiatan ditutup dengan pembagian grow kit berupa tanaman onclang/daun bawang yang ditanam dalam pot bambu ampel mini dan dilindungi tas anyaman bambu. Anak-anak langsung praktik cara menanam dan merawat tanaman tersebut. Grow kit ini diharapkan menjadi langkah awal bagi mereka untuk mengenal aktivitas bercocok tanam di rumah.
Hendro menegaskan pentingnya memperkenalkan TOGA sejak kecil. “Tanaman obat ini sederhana tapi sangat bermanfaat. Anak-anak perlu tahu bahwa tanaman di sekitar rumah bisa menjadi penolong dan punya nilai besar,” ujarnya.
Program CAPLOK menjadi bukti bahwa pelestarian potensi lokal tidak harus dimulai dari proyek besar. Melalui metode bermain, bercerita, dan praktik langsung, anak-anak dapat dikenalkan pada budaya merawat tanaman dengan cara yang menyenangkan sekaligus berkelanjutan.(Amin)







