Laporan | Hendrika Saputra
BANDA ACEH | JEJAKKASUSINDONESIANEWS.COM Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Aceh melontarkan peringatan keras kepada Pemerintah Aceh terkait izin operasional pertambangan PT Alam Cempaka Wangi (ACW) dan PT Hasil Bumi Sembada (HBS) di kawasan Beutong.
Ketua GMBI Aceh, Zulfikar Za, menegaskan bahwa Beutong bukan sekadar kawasan yang memiliki potensi sumber daya alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan dan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan atas nama investasi.
“Jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Kawasan ini menyimpan situs penting yang berkaitan dengan perjuangan rakyat Aceh dan peristiwa kemanusiaan di masa lalu. Jika kawasan ini dirusak, maka yang hilang bukan hanya lingkungan, tetapi juga memori kolektif bangsa,” tegas Zulfikar.
Menurut GMBI Aceh, aktivitas pertambangan di wilayah tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan. Kawasan Beutong dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap pencemaran, kerusakan ekosistem, serta ancaman terhadap sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat sekitar.
Kekhawatiran semakin besar karena wilayah yang akan dieksploitasi disebut beririsan dengan Ekosistem Leuser, salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia yang telah mendapat pengakuan internasional sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO.
“Leuser bukan hanya milik Aceh, tetapi aset dunia. Setiap kebijakan yang berpotensi merusak kawasan ini harus dikaji secara serius dan transparan. Jangan sampai kepentingan jangka pendek mengorbankan masa depan generasi mendatang,” ujarnya.
GMBI Aceh mendesak Pemerintah Aceh segera mengevaluasi dan mencabut izin pertambangan yang telah diterbitkan. Organisasi tersebut juga menyatakan siap menempuh berbagai langkah hukum, advokasi publik, serta menggalang dukungan masyarakat apabila aspirasi tersebut tidak mendapat respons.
“Ini bukan sekadar penolakan, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga sejarah, lingkungan, dan hak masyarakat. Pemerintah harus memilih: melindungi warisan Aceh atau membiarkan risiko kerusakan yang dampaknya akan ditanggung rakyat,” pungkas Zulfikar.
GMBI Aceh menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kepastian sikap dari Pemerintah Aceh terkait masa depan kawasan Beutong dan Ekosistem Leuser.







