Redaktur | Agus Romadhon
Boyolali | Jejakkasusindonesianews.com – Malam itu Aula Front One The Andria Boyolali di Jalan Merdeka Timur, Wonosari, Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terasa panas. Bukan karena pendingin ruangan mati, melainkan karena suasana penuh dinamika, perdebatan, dan kegelisahan tentang masa depan organisasi. Kamis (21/5/2026).
Musyawarah Nasional Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) yang semula diharapkan berlangsung khidmat mendadak memanas. Dari dua nama calon Ketua Umum yang muncul, hanya satu calon hadir dalam forum. Sementara itu, sejumlah administrasi dinilai belum lengkap sehingga memicu perdebatan panjang di antara peserta.
“Ini tidak demokratis!” teriak salah satu peserta.
“Ini kondisi darurat, jangan sampai SWI kehilangan nakhoda!” sahut yang lain.
Di tengah suasana itu, Agus Romadhon, delegasi Jawa Tengah asal Semarang, duduk bersama 56 perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia. Ia mengaku merasakan kegelisahan yang sama seperti peserta lain.
“Saya paham aturan organisasi harus ditegakkan. Tapi saya juga melihat teman-teman dari Aceh, Sumatra, Lampung, Banyuwangi, Sulawesi, Tangerang, Jakarta, Palembang, Palu hingga berbagai kota dan kabupaten lain datang jauh-jauh dengan satu tujuan, agar SWI tetap berdiri dan berjalan,” ungkap Agus.
Perdebatan pun tak terhindarkan. Suara saling bersahutan, argumen bertabrakan, suasana sempat ricuh layaknya panggung politik. Namun di balik semua itu, tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah kepedulian terhadap rumah besar bernama SWI.
Akhirnya forum memilih jalan tengah melalui mekanisme voting melawan kertas kosong. Sebuah keputusan yang dianggap paling demokratis di tengah situasi yang serba mendesak.
Hasil pemungutan suara pun dibacakan di hadapan seluruh peserta:
H. Iskandar : 49 suara
Abstain : 4 suara
Nama di luar konteks : 3 suara
Dengan hasil tersebut, H. Iskandar resmi terpilih sebagai Ketua Umum Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia.
Sesaat setelah hasil diumumkan, suasana yang semula tegang berubah menjadi haru. Para peserta yang sebelumnya berbeda pendapat mulai berdiri, saling mendekat, dan berjabat tangan.
“Pak Iskandar, kami titip SWI,” ujar Agus sambil menggenggam tangan Ketua Umum terpilih.
“Siap, Mas Agus. Ini bukan kerja satu orang, tapi kerja kita bersama,” jawab H. Iskandar.
Di luar gedung, malam Boyolali berjalan seperti biasa. Anak-anak muda menikmati kopi di angkringan dengan cahaya lampu yang temaram. Namun di dalam aula, semangat persaudaraan justru terasa semakin terang.
Munas itu akhirnya menjadi bukti bahwa wartawan Indonesia bisa berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa persaudaraan. Perdebatan boleh terjadi, tetapi persatuan tetap menjadi tujuan utama.
“Musuh kita bukan sesama wartawan. Musuh kita adalah kebodohan, ketidakadilan, dan matinya keberanian menyuarakan kebenaran,” kata Agus.
Delegasi dari Jawa Tengah dan seluruh Indonesia pun pulang dengan satu rasa yang sama: gembira. Bukan semata karena kemenangan, melainkan karena SWI tetap berdiri dan mampu melewati dinamika dengan kedewasaan.
Selamat mengabdi, H. Iskandar.
Semoga SWI semakin kuat, kritis, profesional, dan beradab.
“Di panggung demokrasi, suara boleh berbeda. Tapi salam persaudaraan tak boleh pudar.







