Aceh Timur | Jejakkasusindonesianews.com — Derita warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Timur semakin memprihatinkan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Bantuan yang sebelumnya dijanjikan hingga kini belum juga direalisasikan, memicu kemarahan dan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah. Senin (18/5/2026).
Warga mengaku sudah berbulan-bulan menanti kepastian bantuan, namun hingga kini belum ada kejelasan. Kondisi tersebut membuat masyarakat merasa diabaikan di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit.
“Sudah berbulan-bulan kami menunggu. Jelang Lebaran bantuan belum juga jelas. Rakyat menjerit, tapi pemerintah seolah tutup mata. Jangan jadikan kami pengemis di negeri sendiri,” ungkap salah satu perwakilan warga dengan nada kecewa.
Kritik keras juga disampaikan Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Aceh Timur, Rahmad. Ia menilai lambannya penanganan bantuan banjir bukan lagi persoalan teknis semata, melainkan bentuk kelalaian serius pemerintah terhadap masyarakat terdampak.
“Kalau alasan klasiknya kekurangan personel, itu tidak bisa diterima. Jangan bungkus kelemahan dengan alasan. Negara harus hadir, bukan bersembunyi di balik keterbatasan,” tegas Rahmad.
Menurutnya, masyarakat Aceh Timur sebenarnya siap bergotong royong membantu penanganan bencana. Namun ia menegaskan, tanggung jawab utama tetap berada di tangan pemerintah.
“Kalau memang pemerintah tidak sanggup, katakan saja. Masyarakat Aceh Timur siap turun. Dari 513 desa, kalau lima orang saja bergerak, ribuan orang bisa bekerja membantu penanganan. Tapi pertanyaannya, negara ini masih punya tanggung jawab atau tidak?” ujarnya tajam.
Rahmad juga mendesak pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar segera mengambil langkah konkret dan tidak terus membiarkan masyarakat hidup dalam ketidakpastian.
“Jangan tunggu rakyat bergerak dulu baru pemerintah ikut sibuk. Ini bukan soal pencitraan, ini soal tanggung jawab. Bergerak cepat, transparan, dan serius, itu yang dituntut rakyat hari ini,” katanya.
Ia turut mengingatkan agar semangat gotong royong masyarakat tidak dijadikan alasan untuk menutupi lemahnya tanggung jawab negara dalam menangani dampak bencana.
“Gotong royong itu budaya, bukan alasan untuk membiarkan rakyat menanggung beban sendiri. Jangan sampai negara hanya hadir saat seremonial, tapi hilang saat rakyat menderita,” sindirnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera mencairkan bantuan dan memberikan kepastian kepada para korban banjir sebelum kondisi sosial semakin memanas.
“Jangan tunggu kemarahan ini meledak. Selesaikan sekarang. Jangan sampai setelah banjir surut, tanggung jawab juga ikut hanyut,” tutup Rahmad.
Laporan : Hendrik S







