KAB. SEMARANG | JEJAKKASUSINDONESIANEWS.COM – Banjir kembali datang, dan seperti biasa… tak pernah benar-benar pergi. Warga Krajan, Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, lagi-lagi harus menerima “kiriman rutin” yang semakin terasa seperti pembiaran sistematis.
Kamis (30/4/2026) sore, air kembali meluap dari sungai di sekitar Gang Batak dan merendam permukiman. Bukan kejadian baru. Ini sudah seperti siklus tahunan tanpa solusi—datang, merendam, lalu dilupakan.
Namun kali ini, warga tidak lagi sekadar mengeluh. Mereka mulai berani menunjuk arah: galian C di wilayah hulu yang diduga kuat menjadi biang kerok pendangkalan sungai.
“Sekarang itu bukan sungai, tapi jalur kiriman lumpur,” keluh warga dengan nada kesal, menggambarkan kondisi yang semakin parah dari waktu ke waktu.
“PEMAIN LAMA” YANG TAK TERSENTUH?
Isu paling panas yang mencuat: adanya dugaan “pemain lama” di balik aktivitas galian C yang tetap berjalan mulus tanpa hambatan. Di saat warga berjuang menghadapi banjir, aktivitas tersebut justru disebut-sebut tetap aman—tanpa tindakan tegas.
Logikanya sederhana:
Sungai makin dangkal
Debit air meningkat
Banjir makin cepat datang
Tapi yang jadi pertanyaan besar: kenapa kondisi ini seperti dibiarkan?
Normalisasi sungai? Tak terlihat.
Perbaikan talud? Masih sebatas wacana.
Penertiban galian C? Nihil gaungnya.
WARGA JADI KORBAN, SIAPA DIUNTUNGKAN?
Di tengah kondisi ini, muncul kecurigaan yang tak bisa lagi diabaikan:
Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari aktivitas galian C tersebut?
Dan lebih tajam lagi: kenapa terkesan “kebal hukum”?
Warga mulai muak. Mereka bukan menuntut hal muluk, hanya ingin hidup normal tanpa ancaman banjir setiap hujan turun.
Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak desa maupun instansi terkait. Diamnya para pemangku kebijakan justru memperkuat dugaan adanya pembiaran,tau lebih buruk lagi, pembungkaman.
DIAM ITU PILIHAN, ATAU BAGIAN DARI MASALAH?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka banjir di Leyangan bukan lagi sekadar bencana alam.
Ini bisa berubah menjadi indikasi kegagalan tata kelola, bahkan dugaan pelanggaran yang terstruktur.
Pertanyaannya kini bukan lagi “kenapa banjir terjadi?”
Tapi:
“Kenapa masalah ini tak pernah benar-benar diselesaikan?”
Dan yang paling menggelitik:
Siapa yang berdiri di balik galian C hingga seolah tak tersentuh hukum(Ys/Red)






