Kota.Pekalongan|Jejakkasusindonesianews.com–Puluhan pelaku seni di Kota Pekalongan yang selama bertahun-tahun merasa terpinggirkan akhirnya menyuarakan mosi tidak percaya terhadap Dewan Kesenian Kota Pekalongan. Mereka menilai lembaga tersebut tidak lagi mampu mengakomodasi keberagaman komunitas seni dan justru dianggap membungkam eksistensi para seniman di daerah.
Keresahan itu kemudian melahirkan Aliansi Seniman Kota Pekalongan, sebuah wadah yang dibentuk untuk mengembalikan marwah seni tanpa intervensi maupun kepentingan kelompok tertentu. Pada Kamis, 20 November 2025, sekitar 50 seniman bergerak melakukan aksi di Kantor Dinparbudpora Kota Pekalongan, sekaligus menyerahkan petisi mosi tidak percaya terhadap Dewan Kesenian yang dipimpin Ragil selama tiga periode.
Dalam aksinya, Aliansi Seniman menyampaikan enam tuntutan utama, di antaranya penghentian intervensi pemerintah dalam ruang berkarya, pembubaran Dewan Kesenian beserta jajaran, pelaksanaan Musdalub, pengembalian otoritas kepanitiaan kepada pelaku seni, restrukturisasi bidang seni budaya di Dinparbudpora, serta peningkatan fasilitas dan ruang kreatif bagi seniman.
Perwakilan aliansi—Hadi Lempe, Amat Saeri, Rida Sounda, Tecko, A. Socheh, Arimbi, Dintri, dan Citro Tomo—diterima langsung oleh Kepala Dinparbudpora Sabaryo, didampingi Asisten I Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Sugio. Dalam pertemuan yang berlangsung cukup tegang, seluruh tuntutan dipaparkan secara bergantian oleh perwakilan seniman.
Sabaryo menyampaikan apresiasi atas aspirasi yang disampaikan para pelaku seni. Ia mengakui adanya kesenjangan antara Dewan Kesenian dan komunitas seni selama ini, sekaligus menerima enam poin tuntutan tersebut.
“Mulai hari ini juga, kami nyatakan menonaktifkan Dewan Kesenian Kota Pekalongan. Masukan ini menjadi dasar kami untuk melakukan perubahan dalam pembinaan seni dan budaya ke depan,” tegas Sabaryo.
Keputusan ini menjadi momentum baru bagi para pelaku seni Kota Pekalongan untuk membangun kembali ekosistem kesenian yang inklusif, berkeadilan, dan berpihak pada kreativitas tanpa batas…
Penulis :Hadi Lempe
Editor : Redaksi






