Laporan |Witriyani
Ungaran Timur | Jejakkasusindonesianews.com –
Mengikuti arahan Presiden Republik Indonesia dan Kapolri, warga RT 03 RW 02 Krajan, Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur,
menyambut pergantian Tahun Baru 2026 tanpa menyalakan kembang api. Perayaan berlangsung sederhana namun sarat makna, sebagai bentuk kepatuhan dan empati kepada saudara-saudara di Sumatra dan Aceh.
Ketua RT 03, Endrik, menegaskan bahwa perayaan tahun ini dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan mengedepankan nilai kebersamaan, religiusitas, dan kepedulian sosial.
“Kami ingin menyambut tahun baru dengan cara yang lebih bermakna, tidak dengan hura-hura,
tetapi dengan doa dan kegiatan positif,” ujarnya.
Kegiatan diawali dengan doa bersama, tahlil, dan sholawat yang dipimpin oleh Ustadz Dawamin, diikuti warga dengan penuh kekhusyukan. Suasana religius terasa kuat sebagai refleksi diri dalam menyongsong tahun yang baru.
Partisipasi aktif juga ditunjukkan oleh Remaja GEMATIGA, yang turut ambil bagian dalam pengamanan kegiatan, membantu kelancaran acara, serta mendampingi penampilan anak-anak. Kehadiran Remaja GEMATIGA menjadi bukti peran generasi muda dalam menjaga ketertiban dan memperkuat solidaritas lingkungan.

Selain itu, anak-anak RT 03 menampilkan tarian kreasi yang disambut antusias warga. Kreativitas generasi muda ini menambah semarak acara tanpa meninggalkan nilai kesopanan dan kebersamaan.
Tak kalah menarik, Ibu PKK RT 03 melalui grup hadroh “Rindu Nabi” tampil memukau dalam penampilan perdananya. Lantunan sholawat yang syahdu berhasil menciptakan suasana damai dan religius, sekaligus menuai apresiasi luas dari masyarakat.
Ketua PKK RT 03, Wulan, menyampaikan rasa bangganya atas kekompakan seluruh anggota dan dukungan warga.

“Alhamdulillah, penampilan perdana kami berjalan lancar. Terima kasih atas dukungan seluruh warga dan Remaja GEMATIGA yang ikut membantu suksesnya acara,” ungkapnya.
Perayaan Tahun Baru 2026 di RT 03 RW 02 Krajan Leyangan menjadi contoh nyata bahwa peran semua elemen masyarakat—tokoh agama, pemuda, ibu-ibu, hingga anak-anak—mampu menciptakan perayaan yang aman, bermartabat, dan penuh nilai kebersamaan tanpa harus menyalakan kembang api.






