SEMARANG | jejakkasusindonesianews.com – Janji tinggal janji. Hingga lebih dari satu setengah tahun sejak kesepakatan tertulis dibuat,
Pancanaka Indonesia belum juga mengembalikan sisa uang muka (DP) rumah sebesar Rp 75 juta kepada konsumennya, Dewi Yusmiatun. Kondisi ini memicu kekecewaan dan desakan agar pihak pengembang segera bertanggung jawab.
Keluhan tersebut disampaikan oleh Al Vino Adityarachman, putra Dewi Yusmiatun, kepada awak media pada Minggu (1/2/2026). Ia menegaskan, kesepakatan tertulis yang dibuat pada Juni 2024 hingga kini tak pernah direalisasikan.
Dalam surat kesepakatan tersebut, Pancanaka berjanji mengembalikan sisa DP secara cicilan Rp 2.500.000 per bulan, terhitung mulai 24 Agustus 2024. Namun faktanya, tidak satu pun cicilan diterima oleh pihak konsumen.
“Sejak kesepakatan dibuat, pihak Pancanaka sangat sulit dihubungi. Terakhir saya menghubungi pada Jumat (30/1/2026), tetapi tidak ada respons sama sekali. Kami hanya menuntut hak kami, yaitu pengembalian sisa uang yang sudah dijanjikan,” ujar Vino.
DP Dibayar Lunas, Rumah Tak Kunjung Dibangun
Permasalahan ini bermula pada 2019, saat Dewi Yusmiatun melakukan perjanjian jual beli rumah dengan Pancanaka Indonesia, yang beralamat di Wates, Ngaliyan, Kota Semarang. Dalam transaksi tersebut, Dewi telah menyetorkan DP sebesar Rp 151,5 juta untuk pembelian rumah di Perumahan Green Semesta Tahap II.
Namun setelah satu tahun berlalu, rumah yang dijanjikan tak kunjung dibangun. Merasa dirugikan, pihak konsumen akhirnya meminta pengembalian dana.
“Baru pada tahun 2022, Pancanaka mengembalikan sebagian DP sebesar Rp 76.500.000, itu pun dicicil. Setelah itu, sisa Rp 75 juta terus kami tagih hingga akhirnya dibuat kesepakatan tertulis pada 2024,” jelas Vino.
Ancaman Langkah Hukum
Vino menegaskan, apabila pihak Pancanaka tidak menunjukkan itikad baik dan segera merealisasikan pengembalian sisa DP sesuai kesepakatan, maka keluarga akan menempuh langkah hukum.
“Kami tidak ingin berlarut-larut. Jika tetap diabaikan, kami siap membawa persoalan ini ke ranah hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pancanaka Indonesia belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui pesan WhatsApp juga belum mendapat respons.
Kasus ini menambah daftar panjang dugaan sengketa konsumen dengan pengembang perumahan, sekaligus menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar lebih waspada sebelum melakukan transaksi properti.(..)
[Viosari ]






