Laporan: Adi Winarko
Semarang | jejakkasusindonesianews.com
Banjir yang melanda Dukuh Lengkong, Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kini tak lagi bisa dianggap sebagai bencana musiman.
Kondisi tersebut telah berubah menjadi krisis berkepanjangan yang menekan kehidupan warga. Hingga 27 April 2026, genangan air dilaporkan telah bertahan lebih dari delapan bulan tanpa penanganan nyata dari pihak terkait.
Muhammad Miftah, warga RT 06 RW 07 Dukuh Lengkong, mengungkapkan bahwa banjir telah terjadi selama bertahun-tahun dan kian memburuk dalam satu dekade terakhir.
Menurutnya, situasi ini tidak bisa lagi dikategorikan sebagai bencana alam biasa.
“Banjir sampai delapan bulan lebih ini bukan lagi bencana, tapi sudah jadi krisis. Ini sudah lebih dari sepuluh tahun terjadi setiap tahun,” ujar Miftah.
Dampak paling terasa adalah lumpuhnya aktivitas ekonomi warga. Sektor pertanian menjadi yang paling terdampak, karena lahan tidak dapat digarap maupun ditanami.
“Kerugian sangat besar, ekonomi lumpuh seratus persen. Sawah tidak bisa ditanam sama sekali,” jelasnya.
Ia juga menyoroti minimnya upaya penanganan, baik dalam mengatasi dampak maupun akar persoalan banjir. Hingga saat ini, warga mengaku belum merasakan langkah konkret dari pemerintah.
“Memang ini faktor alam, tapi tetap harus ada penanganan. Tidak bisa dibiarkan. Manusia harus berusaha, bukan hanya pasrah,” tegasnya.
Warga, lanjut Miftah, merasa seolah dibiarkan menghadapi kondisi tersebut tanpa solusi yang jelas, meskipun banjir telah menjadi persoalan tahunan selama lebih dari sepuluh tahun.
“Penanganan dari pemerintah sejauh ini masih nol. Tidak ada. Makanya rakyat benar-benar sengsara. Sudah lebih dari sepuluh tahun kebanjiran, tapi tidak ada solusi sama sekali,” pungkasnya.







