Laporan | Witriyani
SALATIGA |ajejakkasusindonesianews.com – Menjelang bulan suci Ramadan, Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Salatiga tak tinggal diam. Pegawai bersama warga binaan yang memenuhi syarat asimilasi diterjunkan langsung membersihkan Makam Cungkup dan Masjid Al-Manaar Perhutani, Rabu (18/2/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Kepala Rutan Salatiga, Anton Adi Ristanto, menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari pembinaan nyata, bukan formalitas seremonial.
“Kegiatan bersih-bersih makam dan masjid ini bagian dari pembinaan sekaligus persiapan menyambut Ramadan. Warga binaan yang ikut sudah memenuhi syarat asimilasi,” tegasnya.
Saat ini, jumlah warga binaan di Rutan Salatiga tercatat 189 orang. Namun tidak semua bisa ikut program luar tembok. Mereka yang terlibat harus telah menjalani minimal setengah masa pidana, berkelakuan baik, lolos asesmen, serta memiliki penjamin.
Program asimilasi, lanjut Anton, merupakan tahap krusial sebelum warga binaan kembali sepenuhnya ke masyarakat. Dengan pengawalan petugas, mereka diberi ruang beradaptasi secara bertahap di lingkungan luar rutan.
Langkah ini juga menjadi pesan tegas bahwa warga binaan bukan untuk dikucilkan, melainkan dibina agar siap kembali sebagai pribadi yang lebih baik. Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa magang dari Universitas Kristen Satya Wacana sebagai bentuk kolaborasi edukatif.
Tak berhenti di situ, selama Ramadan pihak rutan telah menyiapkan agenda pembinaan keagamaan secara rutin, mulai dari pengajian harian, salat tarawih berjamaah hingga tadarus Al-Qur’an setiap malam.
Salah satu warga binaan peserta kegiatan, Enggar Yuda, mengaku antusias. “Senang bisa ikut bantu,” ujarnya singkat.
Momentum ini menjadi bukti bahwa pembinaan di balik jeruji bukan sekadar slogan. Rutan Salatiga menunjukkan, pendekatan humanis dan disiplin berjalan beriringan — membangun harapan baru bagi mereka yang tengah menjalani proses hukum, sekaligus menjaga kepercayaan publik.






