Laporan | M.Supadi
SALATIGA | JEJAKKASUSINDONESIANEWS.COM – Di balik seragam cokelat yang identik dengan ketegasan, Aiptu Nurcholis (56) justru memilih “senjata” yang berbeda: pena dan kuas. Anggota Polsek Tengaran, Polres Semarang ini menyalurkan keresahan sosial melalui kartun satir hingga lukisan penuh makna.
Dari rumahnya di Perumahan Kecandran Indah, Kota Salatiga, ia menyulap ruang pribadi menjadi Galeri “Polisi Kartun”. Ratusan karya terpajang—sebagian sudah terbingkai rapi, sebagian lainnya masih dalam proses penyempurnaan.
“Sejak sekolah saya memang sudah suka menggambar. Sempat berhenti saat awal jadi polisi, lalu mulai lagi sekitar usia 30 tahun. Sudah hampir 20 tahun saya serius,” ungkap Nurcholis, Rabu (22/4/2026).
Menggunakan nama pena “Nur mBeling”, Nurcholis dikenal lewat karya kartun satir yang berani mengkritisi isu sosial, politik, hingga fenomena kekinian. Goresannya tajam namun tetap menghibur,gaya khas yang membuat karyanya pernah menghiasi berbagai media cetak di masa kejayaan koran dan majalah.
Tak hanya kartun, ia juga menekuni lukisan kanvas dengan aliran realis dan abstrak. Kontras dengan profesinya sebagai aparat penegak hukum, karya-karyanya justru memancarkan sisi reflektif dan humanis.
Inspirasi datang tanpa jadwal pasti. Ide bisa muncul dari mana saja , saat bertugas, berbincang dengan warga, hingga di waktu santai.
“Kalau sudah dapat ide, biasanya langsung saya tuangkan. Tapi memang butuh suasana tenang, seringnya malam hari,” jelasnya.
Soal harga, Nurcholis memilih fleksibel. Baginya, seni bukan semata urusan jual beli.
“Yang penting yang beli benar-benar suka. Bahkan ada yang saya kasih gratis, asal dipajang,” katanya.
Ia juga melayani pembuatan pigura khusus untuk memberikan sentuhan eksklusif pada setiap karya ,menambah nilai personal bagi para kolektor.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan kuat: kreativitas tidak dibatasi profesi. Di tengah tugas menjaga keamanan, ruang berekspresi tetap bisa hidup.
“Selama saya masih sehat, saya akan terus menggambar. Ini bagian dari hidup saya,” tegasnya.
Kisah Aiptu Nurcholis menjadi bukti bahwa polisi bukan hanya penegak hukum, tetapi juga bisa menjadi seniman yang menyuarakan realitas secara cerdas, tajam, dan mengena.







