dok.ilustrasi
Redaksi :Kang Adi
Semarang | Jejakkasusindonesianews.com- Misteri kematian Dwinanda Linchia Levi (35), dosen Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, terus mengemuka. Keluarga korban menilai banyak kejanggalan, terutama keberadaan AKBP B (56) di kamar hotel saat jenazah ditemukan, hingga fakta bahwa keduanya tercatat dalam satu Kartu Keluarga (KK) dengan status “family lain”.
Fian, kakak korban, mengungkapkan adanya hal janggal pada hari kematian adiknya. Ia menyebut AKBP B sempat mengirim sebuah foto kondisi korban kepada kerabat di Purwokerto, namun foto itu mendadak dihapus tidak lama kemudian.
“Sekilas terlihat ada darah di perut dan paha. Itu membuat saya curiga. Hasil autopsi harus benar-benar mengungkap penyebab kematian adik saya,” tegas Fian, Kamis (20/11).
Hubungan Tertutup dan Status KK Mengejutkan
Kuasa hukum keluarga, Zaenal Abidin Petir, menegaskan perlunya penyidikan transparan. Ia menyoroti fakta administrasi kependudukan yang membuat publik terperangah.
“AKBP B satu KK dengan almarhumah, padahal dia sudah punya keluarga resmi. Ini tidak wajar dan harus dijelaskan,” ujarnya.
AKBP B diketahui telah dijatuhi Patsus 20 hari atas dugaan pelanggaran etik karena memiliki hubungan dengan perempuan lain saat masih berkeluarga.
Kronologi Kematian dan Temuan Janggal
Dwinanda ditemukan meninggal tanpa busana di kamar 210 hotel-indekos di Jalan Telaga Bodas Raya, Gajahmungkur, Semarang, Senin (17/11/2025). Korban sudah tinggal di lokasi itu sekitar dua tahun. Dua hari sebelum kejadian, korban sempat dirawat di rumah sakit akibat tensi mencapai 190 dan gula darah di atas 600.
Usai pulang dari rumah sakit, korban meminta tubuhnya dibaluri minyak kayu putih. Keesokan paginya, ia ditemukan tak bernyawa. Peristiwa itu dilaporkan ke Polsek Gajahmungkur oleh AKBP B sekitar pukul 07.00 WIB.
Keberadaan perwira polisi bagian Dalmas Polda Jateng itu makin menimbulkan tanda tanya. Komunitas Alumni Muda Mudi Untag Semarang menilai kasus ini sarat kejanggalan dan berpotensi ditutup-tutupi.
“Ini janggal. Mengapa seorang anggota Dalmas berada di kamar korban dan melaporkan kematian pada pagi buta? Kami minta penyidikan objektif, tidak ada pengamanan oknum,” tegas Ketua Umum, Jansen Henry Kurniawan.
Dugaan lain muncul soal alamat keduanya yang tercatat sama, yakni di Perumahan Semawis Blok D.10, Kedungmundu, Tembalang. Fakta ini makin menebalkan dugaan hubungan khusus antara korban dan perwira polisi tersebut.
Keluarga korban berharap autopsi dan penyidikan berjalan terbuka agar kematian Dwinanda tidak menyisakan misteri dan kepastian hukum segera terwujud.(lamanmerdeka.com)






