Laporan |Yogie
KUDUS | jejakkasusindonesianews.com – Dugaan keracunan massal mengguncang SMA Negeri 2 Kudus, Kamis (29/1/2026). Ratusan siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya. Akibat kejadian ini, aktivitas belajar mengajar di sekolah nyaris lumpuh.
Sejak pagi, para siswa mengeluhkan berbagai gejala seperti mual, pusing, muntah, nyeri perut hingga diare. Kondisi tersebut memicu kepanikan di lingkungan sekolah. Sejumlah ambulans dari berbagai rumah sakit di Kabupaten Kudus dikerahkan untuk mengevakuasi siswa yang mengalami gejala berat.
Siswa yang membutuhkan penanganan intensif dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD dr Loekmonohadi, RS Sarkies, RS Kumalasiwi, RS Mardi Rahayu, serta RS Islam Kudus. Petugas medis bergerak cepat guna memastikan kondisi para korban tetap stabil.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, membenarkan adanya laporan dugaan keracunan massal tersebut. Ia menyebutkan laporan pertama diterima sejak pagi hari dan pihaknya langsung berkoordinasi dengan sekolah serta rumah sakit.
“Ada laporan siswa mengalami mual, muntah, dan diare. Dugaan sementara mengarah pada keracunan makanan. Penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelas Mustiko.
Menurutnya, makanan yang dikonsumsi siswa merupakan bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Rabu (28/1/2026). Menu saat itu terdiri dari nasi putih, ayam, tempe, sayur kecambah, dan kuah soto. Sejumlah siswa mengaku mencium aroma tidak sedap dari makanan tersebut sebelum akhirnya mengalami keluhan keesokan harinya.
“Kami sudah mengamankan sampel makanan untuk diuji laboratorium. Distribusi MBG dari dapur penyedia yang sama kami hentikan sementara,” tegasnya.
Data sementara hingga pukul 12.30 WIB mencatat sebanyak 97 siswa menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 104 siswa lainnya menjalani observasi mandiri karena hanya mengalami gejala ringan.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menegaskan bahwa pemerintah daerah bergerak cepat menangani insiden ini dan memastikan seluruh siswa terdampak mendapat pelayanan kesehatan maksimal.
“Keselamatan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama. Saya minta semua korban ditangani optimal dan biaya perawatan tidak menjadi kendala,” tegas Bupati.
Ia juga memerintahkan penghentian sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis dari dapur penyedia yang sama hingga hasil investigasi menyatakan aman.
“Program ini sangat baik, tetapi pelaksanaannya harus diawasi secara ketat. Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia dan proses distribusi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Pemkab Kudus memastikan proses investigasi dilakukan secara transparan dengan melibatkan dinas terkait. Pihak sekolah diminta meningkatkan pengawasan terhadap kondisi siswa serta segera melaporkan apabila masih ditemukan keluhan lanjutan.
Kasus ini menjadi sorotan publik, mengingat Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis pemerintah. Evaluasi terhadap standar kebersihan, pengolahan, dan distribusi makanan dinilai mendesak agar keselamatan pelajar benar-benar terjamin.






