Kaperwil Jateng |Yogie
TEGAL|JEJAKKASUSINDONESIANEWS.COM – Di saat tanah tak lagi terasa kokoh di bawah pijakan, harapan justru hadir dari langkah-langkah sigap aparat di lapangan. Jajaran Polres Tegal terus melakukan penanganan intensif bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada 14–15 Februari 2026.
Bencana tersebut berdampak pada sedikitnya 900 rumah warga. Rinciannya, 405 unit rusak berat, 190 rusak sedang, 96 rusak ringan, 164 rumah masih layak huni, serta tambahan 45 unit hasil pendataan terbaru. Tak hanya hunian, sejumlah fasilitas sosial, sarana pendidikan, tempat ibadah, hingga infrastruktur jalan dan jembatan turut mengalami kerusakan.
Data terbaru mencatat sebanyak 2.546 jiwa dari 654 kepala keluarga kini harus mengungsi. Mereka terdiri dari anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga penyandang disabilitas yang menjadi prioritas utama dalam penanganan dan distribusi bantuan.
Kapolres Tegal, AKBP Bayu Prasatyo SH SIK MH, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi fokus utama seluruh unsur yang terlibat.
“Kami memastikan masyarakat aman, kebutuhan dasar terpenuhi, layanan kesehatan berjalan, serta situasi kamtibmas tetap kondusif. Polri hadir bukan hanya menjaga, tetapi juga mendampingi,” tegasnya.
Laporan lapangan dari Kasat Intelkam AKP Surahno SH MH menyebutkan personel gabungan terus melakukan patroli malam di area rumah kosong guna mencegah potensi tindak pidana. Pengamanan ini berjalan paralel dengan proses evakuasi bertahap, menyesuaikan kondisi tanah yang dilaporkan masih aktif bergerak.
Sebanyak lima dapur umum telah beroperasi dengan total produksi mencapai 3.354 porsi makanan yang didistribusikan ke berbagai titik pengungsian. Di sektor kesehatan, layanan terpadu mencatat 975 kasus pemeriksaan, didominasi keluhan ISPA, myalgia, hipertensi, dan gangguan pencernaan. Sejumlah pasien telah dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan untuk penanganan lebih intensif.
Dari sisi logistik, stok bahan pokok utama terpantau relatif aman. Namun kebutuhan pangan segar serta variasi protein harian menjadi perhatian serius guna menjaga daya tahan tubuh para pengungsi. Untuk mendukung sanitasi, 10 unit toilet portabel telah ditempatkan di titik strategis lingkungan pengungsian.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait juga telah menyiapkan rencana relokasi warga ke lahan seluas ±12 hektare di Desa Capar. Proses ini akan dilakukan secara bertahap setelah kajian geologi dan penataan lahan dinyatakan siap.
Relokasi tersebut menjadi harapan baru agar warga dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan permanen di lokasi yang lebih stabil.
Di tengah kondisi sulit, sinergi antara aparat, relawan, dan masyarakat menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dan solidaritas tetap menjadi fondasi kuat bangsa. Bagi para pengungsi, kehadiran aparat berseragam bukan sekadar simbol pengamanan, melainkan wujud nyata bahwa negara hadir dan mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini.(..)






