Laporan |Witriyani
SALATIGA | JEJAKKASUSINDONESIANEWS.COM Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Salatiga menjadi saksi prosesi khidmat Pelantikan Pengurus Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA) Cabang Salatiga masa bakti 2026–2031, Sabtu (24/01/2026). Nuansa sakral kental terasa sejak sore hari, ketika alunan gending Jawa mengalir mengiringi jalannya acara, menegaskan kuatnya identitas budaya dalam momentum tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Tari Edan-edanan, tarian bernuansa jenaka yang sarat makna filosofis sebagai simbol pembersihan energi negatif di pelataran pendopo. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Tari Gambyong yang dibawakan dengan gerak gemulai, melambangkan penghormatan sekaligus penyambutan tamu kehormatan dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Pelantikan pengurus PAKASA Cabang Salatiga berlangsung di hadapan GKR. Dra. Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd., serta KPH. Dr. Edy S. Wirabhumi. Momentum ini menandai penyerahan amanah dan tanggung jawab besar kepada jajaran pengurus baru untuk mengemban peran pelestarian budaya Jawa selama lima tahun ke depan.
Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan PAKASA di tengah masyarakat modern bukan sekadar pelengkap seremoni budaya, melainkan kebutuhan mendasar. Menurutnya, budaya adalah napas peradaban yang berfungsi menjaga keseimbangan moral di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.
“Pelantikan ini bukan hanya seremonial, tetapi peneguhan amanah. Seperti tarian yang kita saksikan, di dalamnya tersimpan doa dan harapan agar pengurus PAKASA mampu menjadi penyejuk sekaligus penjaga nilai moral masyarakat,” tegas Robby.
Ia juga menekankan bahwa PAKASA menjadi representasi nyata komitmen Salatiga sebagai Rumah Bersama yang menjunjung tinggi toleransi, harmoni, dan keberagaman identitas budaya.
Sementara itu, Ketua PAKASA Cabang Salatiga yang baru dilantik, Retno Robby Hernawan, menyatakan komitmennya untuk menjaga dan menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Jawa di tengah derasnya arus globalisasi. Menurutnya, PAKASA harus tampil sebagai jembatan antara warisan masa lalu dan realitas kehidupan modern.
“Nilai tepa selira dan andhap asor tidak boleh berhenti pada panggung seremoni. Budaya harus hadir dalam sikap dan tindakan nyata sehari-hari. Itulah tanggung jawab kami ke depan,” pungkas Retno.
Pelantikan ini sekaligus menegaskan posisi PAKASA sebagai garda budaya yang tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga memperkuat karakter sosial masyarakat Salatiga di tengah perubahan zaman.






