Laporan : Adi Winarko
Ungaran | jejakkasusindonesianews.com– Proyek wisata raksasa Jateng Valley yang digadang-gadang menjadi ikon baru Jawa Tengah kembali menuai sorotan, Selasa (31/3/2026). Proyek bernilai lebih dari Rp2 triliun ini berdiri di atas lahan sekitar 370 hektare di kawasan Hutan Penggaron, Kabupaten Semarang, dan sejak awal diproyeksikan sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Namun, perjalanan proyek tersebut menunjukkan pola berulang: dimulai dengan ambisi besar, kemudian terhenti, dilanjutkan kembali, hingga akhirnya kembali dipertanyakan.
Jateng Valley pertama kali dirintis pada 2010, tetapi terhenti pada 2012 akibat persoalan administrasi dan investasi. Proyek ini kembali dihidupkan melalui groundbreaking pada 15 Agustus 2020, bertepatan dengan Hari Jadi ke-70 Jawa Tengah, dan disebut sebagai “kado untuk rakyat Jawa Tengah”.
Pada 2021, pembangunan kembali berjalan dengan peletakan batu pertama di sejumlah titik. Pemerintah berharap proyek ini dapat menjadi penggerak ekonomi, terutama di tengah pandemi, sekaligus menghadirkan destinasi wisata berbasis lingkungan.
Memasuki 2023, persoalan mulai mencuat setelah adanya laporan warga terkait longsor di Dusun Kaligawe, Kecamatan Ungaran Timur. Pemerintah Kabupaten Semarang bersama DPRD melakukan inspeksi lapangan dan menemukan dugaan masalah pada sistem drainase yang dinilai belum optimal, terutama di area lereng curam.
“Penataan saluran air tidak diutamakan sehingga berdampak pada lingkungan sekitar,” ungkap unsur DPRD Kabupaten Semarang saat peninjauan lapangan, Rabu (15/2/2023).
Pihak pengembang membantah bahwa aktivitas proyek menjadi penyebab utama longsor dan menyebut lokasi kejadian berada di luar kawasan pengembangan. Meski demikian, mereka menyatakan akan melakukan evaluasi dan perbaikan sistem saluran air.
Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening, menilai terdapat dua faktor penyebab bencana di wilayah tersebut, yakni kondisi alam dan dampak pembangunan Jateng Valley.
Menurutnya, pembangunan belum sepenuhnya memperhatikan ekosistem serta penataan drainase yang optimal, sehingga dampaknya dirasakan masyarakat, khususnya di Dusun Kaligawe.
“Harapan kami ada keseriusan dari pihak Jateng Valley untuk segera membenahi sistem drainase agar berfungsi optimal dan tidak merugikan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, bersama pimpinan dan Komisi C DPRD Kabupaten Semarang juga telah meninjau langsung lokasi pembangunan jalan di kawasan Jateng Valley, tepatnya di Dusun Kaligawe, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur.
Memasuki 2026, sorotan publik kembali menguat. Sejumlah dokumentasi menunjukkan minimnya aktivitas pembangunan, akses jalan yang belum memadai, serta kawasan yang dipenuhi vegetasi liar.
Jika ditarik dalam garis waktu, proyek ini mengalami siklus berulang: dimulai pada 2010, terhenti pada 2012, dihidupkan kembali pada 2020, dilanjutkan pada 2021, menghadapi persoalan pada 2023, hingga kembali dipertanyakan pada 2026.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan publik terkait kejelasan progres pembangunan, keberlanjutan investasi, serta pihak yang bertanggung jawab atas keterlambatan proyek.
Jateng Valley yang semula diproyeksikan sebagai simbol kemajuan pariwisata Jawa Tengah kini justru menjadi cerminan tantangan dalam pengelolaan proyek berskala besar. Publik pun menanti kejelasan arah pembangunan ke depan—apakah proyek ini akan dilanjutkan sesuai rencana atau kembali terhenti di tengah jalan.






