Diduga Dianiaya Suami Pasien, Dokter Anestesi di Semarang Alami Trauma dan Harus Cuti

redaksi

Minggu, 14 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semarang / Jejakkasusindonesianews.com Kasus mengejutkan terjadi di dunia kesehatan Kota Semarang. Seorang dokter anestesi, dr. Astra, diduga menjadi korban penganiayaan oleh suami pasien saat bertugas di Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Jumat (5/9/2025). Pelaku disebut-sebut berprofesi sebagai dosen, dan dalam insiden itu bahkan merusak fasilitas ruang bersalin.

Akibat peristiwa tersebut, dr. Astra mengalami trauma fisik dan psikis hingga terpaksa mengambil cuti. Situasi ini menambah keprihatinan publik, sebab tenaga medis yang seharusnya fokus menyelamatkan nyawa justru dihadapkan pada ancaman kekerasan dari keluarga pasien.

Bukan Kasus Pertama

Kekerasan terhadap tenaga medis ternyata bukan hal baru. Catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkap insiden serupa dalam beberapa tahun terakhir:

  • Makassar, 2023 – dokter dianiaya keluarga pasien.
  • Jakarta, 2022 – perawat dipukul keluarga pasien.
  • Jawa Barat, 2021 – dokter mendapat intimidasi saat menangani pasien.

Polanya sama: tenaga kesehatan menanggung risiko ganda, menyelamatkan nyawa sekaligus menghadapi ancaman kekerasan.

Tim Advokasi Bergerak

Menanggapi kasus ini, dr. Hansen, S.Ked., S.H., M.H., selaku Wakil Ketua Tim Advokasi Keadilan Dokter Astrandaya menegaskan komitmennya:

“Kekerasan terhadap dokter adalah pelanggaran hukum sekaligus ancaman serius bagi pelayanan kesehatan. Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas agar pelaku mendapat efek jera, sekaligus memastikan perlindungan hukum benar-benar hadir bagi tenaga medis,” tegasnya kepada awak media, Minggu (14/9/2025).

Tim Advokasi kini tengah menyiapkan langkah hukum agar keadilan bagi dr. Astra dapat ditegakkan.

Momentum Perubahan

Kasus ini diharapkan menjadi alarm keras bagi seluruh pihak. Ada empat poin penting yang didorong:

  1. Masyarakat: memahami dokter dan tenaga medis sebagai mitra penyelamat, bukan pelampiasan emosi.
  2. Rumah Sakit: memperkuat SOP keamanan dan pola komunikasi dengan keluarga pasien.
  3. Pemerintah & Aparat Penegak Hukum: lebih tegas melindungi tenaga kesehatan dan memberi efek jera bagi pelaku.
  4. Organisasi Profesi: memperjuangkan keselamatan, martabat, dan hak tenaga medis dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Ancaman bagi Sistem Kesehatan

Lebih jauh, dr. Hansen menegaskan bahwa kekerasan ini bukan hanya melukai dr. Astra sebagai individu, melainkan juga meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan.

“Menegakkan keadilan bagi dr. Astra berarti menegakkan martabat seluruh tenaga medis di Indonesia,” pungkasnya.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik sekaligus ujian bagi penegakan hukum di Indonesia.

(Agus Romadhon )

Loading

Berita Terkait

Darurat Kecanduan Gadget Anak, Yayasan Pendidikan ABANA Gaungkan “Detoks Digital” dari Semarang
Lestarikan Tradisi Leluhur, Bupati Semarang Hadiri Sedekah Desa RW 4 Kalidoh Langesari
PD PWI LS Demak Awali 2026 dengan Apel Pasukan Baret Merah dan Laskar Sabilillah, Perkuat Disiplin dan Kesiapsiagaan
Latih Kepemimpinan Gen-Z, JSIT Jawa Tengah Siapkan Generasi Emas Indonesia 2045
Pelantikan PAKASA Salatiga 2026–2031 Teguhkan Peran Budaya sebagai Penjaga Moral Zaman
Jeritan Satlinmas Tak Boleh Diremehkan: Kesejahteraan Masih Terpinggirkan!!
Dituding Terlibat Pembuangan Tinja Manusia, Tim SAD Tegas Bantah: Itu Hoaks!
TP PKK Kota Salatiga Gandeng Industri, PT Kievit Indonesia Disiapkan Jadi Mitra Strategis Penanganan Stunting

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 11:28

Darurat Kecanduan Gadget Anak, Yayasan Pendidikan ABANA Gaungkan “Detoks Digital” dari Semarang

Senin, 26 Januari 2026 - 01:15

Lestarikan Tradisi Leluhur, Bupati Semarang Hadiri Sedekah Desa RW 4 Kalidoh Langesari

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:58

PD PWI LS Demak Awali 2026 dengan Apel Pasukan Baret Merah dan Laskar Sabilillah, Perkuat Disiplin dan Kesiapsiagaan

Minggu, 25 Januari 2026 - 19:40

Latih Kepemimpinan Gen-Z, JSIT Jawa Tengah Siapkan Generasi Emas Indonesia 2045

Minggu, 25 Januari 2026 - 09:40

Pelantikan PAKASA Salatiga 2026–2031 Teguhkan Peran Budaya sebagai Penjaga Moral Zaman

Sabtu, 24 Januari 2026 - 20:49

Jeritan Satlinmas Tak Boleh Diremehkan: Kesejahteraan Masih Terpinggirkan!!

Rabu, 21 Januari 2026 - 11:29

Dituding Terlibat Pembuangan Tinja Manusia, Tim SAD Tegas Bantah: Itu Hoaks!

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:27

TP PKK Kota Salatiga Gandeng Industri, PT Kievit Indonesia Disiapkan Jadi Mitra Strategis Penanganan Stunting

Berita Terbaru

error: Content is protected !!