Laporan |Yogie
Karanganyar || jejakkasusindonesianews.com — Penantian panjang warga Dukuh Claket akhirnya menemukan titik terang. Selasa sore (10/2/2026), Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti, S.H., S.I.K., M.H., turun langsung memimpin prosesi peletakan batu pertama pembangunan kembali Jembatan Claket di RT 01/RW 09, Desa Tohkuning, Kecamatan Karangpandan.
Jembatan yang memiliki panjang sekitar 4 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 5 meter tersebut merupakan akses vital penghubung Dukuh Claket (Dusun Pendoworejo) dengan Dukuh Salam, Desa Tohkuning. Selama ini, jalur tersebut menjadi nadi mobilitas warga, termasuk anak-anak yang setiap pagi harus melintas menuju SD Tohkuning.
Rombongan Kapolres tiba di lokasi sekitar pukul 15.10 WIB. Warga yang telah lama menantikan pembangunan kembali jembatan itu menyambut hangat kedatangan jajaran kepolisian bersama pemerintah desa. Tepat pukul 15.20 WIB, batu pertama diletakkan sebagai simbol dimulainya pembangunan.
Dalam sambutannya, AKBP Arman Sahti menegaskan bahwa kehadiran Polri bukan hanya sebatas menjaga keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas kebutuhan masyarakat.
“Pembangunan jembatan ini merupakan bentuk nyata dukungan Polri terhadap program pemerintah dalam meningkatkan akses masyarakat. Infrastruktur yang layak akan menunjang aktivitas pendidikan dan perekonomian warga. Kami ingin masyarakat benar-benar merasakan kehadiran Polri,” tegasnya.
Diketahui, jembatan tersebut pertama kali dibangun sekitar tahun 2016. Namun pada Desember 2024, struktur jembatan mengalami kerusakan parah akibat tergerus derasnya arus sungai saat hujan lebat mengguyur wilayah Karangpandan. Sejak saat itu, warga terpaksa menggunakan jembatan darurat dari anyaman bambu tanpa pengaman.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran, terutama bagi para orang tua. Anak-anak sekolah harus melintas dengan risiko keselamatan yang tinggi demi bisa tetap menimba ilmu.
Kegiatan peletakan batu pertama turut dihadiri sejumlah pejabat utama Polres Karanganyar serta perangkat desa setempat. Suasana gotong royong dan kebersamaan terasa kuat di lokasi pembangunan.
Bagi warga Tohkuning, pembangunan kembali Jembatan Claket bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah simbol harapan—agar akses antar dukuh kembali normal, aktivitas ekonomi pulih, dan yang terpenting, anak-anak bisa berangkat sekolah dengan aman tanpa rasa waswas.






